Senin, 06 Februari 2012

Kemenangan Tanpa Piala (Lomba TPA se-Jebres)

Sinar pagi yang merona, tapi tak semerona tampilan wajahku saat ini. Begitulah ungkapan Dek Wanda dipagi ini. Wajahnya ada sedikit bengkak terkena alergi. Harusnya pagi ini siap tampil penuh dalam lomba adzan antar TPA se-Jebres tanpa kurang suatu apapun, namun Allah memberi sedikit godaan dengan kemauannya, apakah Dek Wanda mau tetap tampil dalam ajang lomba ini dengan kondisi mukanya yang sedikit bengkak??

Ga percaya diri, malu, ga enak ketika berpapasan dengan teman, semuanya menggoda untuk tidak ikut dalam ajang bergengsi ini. Ngaca lagi, pake lagi kokonya, dicopot lagi kokonya, “ga jadi ngikut saja Pa”, ungkapnya kepada ayahandanya. Mesake Mas-e, wis dienteni, sahut ayahandanya. Maksudnya kasihan mas nya, sudah ditungguin dari tadi. Yap, pagi itu aku dan guru ngajinya memang kebagian untuk menjemputnya. Bujuk sekali, bujuk dua kali akhirnya mau juga. Go Wanda!

***

Dilokasi Lomba (Masjid Mojosongo)

Begitu banyak lomba yang dipertandingkan disini. Ada adzan, pildacil, hafalan surat pendek dan adu ketangkasan (merayap dilapangan yg berlumpur), namun dari semuanya, aku hanya berkonsentrasi untuk menemani Dek Wanda dilomba adzan.

“Nomer 68”, panitia menyebutkannya dengan suara keras. Saatnya Dek Wanda masuk ke dalam satu ruangan yang sudah dihuni para juri. “Allahu Akbar Allahu Akbar”, suara lantunan khas adzan Mekah mulai terdengar dari balik ruangan kaca. Tiruan suara yang lumayan sempurna. 10 menit sudah Dek Wanda berada didalam ruangan. Pintu kaca mulai terbuka, keluar wajah Dek Wanda yang berseri sedikit menutupi bengkaknya.

“Gimana hasilnya?” Tanya kami semua pada Wanda. “Cuma ditakoni wae Mas (cuma ditanyain aja Mas) darimana asal TPA nya”. “Terus jawabnya apa?” Dari Baiturridho (nama TPA), tapi ndak terdaftar disitu. Kemudian dijawab lagi dari Al-Khoir (nama Masjid), ndak terdaftar juga disitu. Lha, nama yang disebutin kamu ga bakalan ada disitu, sahut guru ngajinya, karena memang nama TPA yang didaftarkan adalah Daarussalaam. Tertawa semua kami dengan jawaban-jawabannya. J

1 jam, 2 jam lewat sudah. Sembari menunggu pengumuman hasil pemenang aku sempatkan jalan-jalan mengitari masjid, di satu tempat (dalam masjid) aku lihat ada lomba hafalan surat pendek. Pesertanya adek-adek cewek semua, mungkin mereka kelas 3-6 SD, jawab batinku. Iri aku disini, gadis kecil itu sedang membacakan surat ad-duha, gaya suaranya aku tampak kenal, Ahmad Sauda. Mumtaz. Luar Biasa. Sungguh Sempurna. Gadis kecil itu bener-bener berhasil menirukan suara aslinya. Dibandingkan aku dulu, mungkin aku baru hafal an-naas sampe at-takasur saja dan itu pun dengan gaya suara sendiri. Belum tau itu gaya suara Ahmad Sauda, Al-Ghomidi, dan lain-lainnya.

Saatnya Pengumuman

3 peserta adzan yang lolos dan akan dipertandingkan dalam babak final adalah sebagai berikut : satu (?????), dua (?????), tiga (?????). ketiga nama yang disebut tidak keluar nama Wanda (Juanda). Artinya Dek Wanda tidak bisa lagi melantunkan adzan khas Mekahnya untuk yang kedua kalinya, tidak ada kesempatan lagi untuk memperebutkan satu piala dalam lomba TPA di bidang adzan ini. Pupus sudah untuk membawa minimal 1 piala ke base camp TPA (Daarussalaam).

Menangis, kecewa, sedih, tidak menerima dengan hasil keputusan juri, semua itu tidak nampak dalam muka kami semua KAWAN. Ternyata disinilah aku menemukan sang pemenang sejati itu. Aku lihat satu per satu wajah-wajah mungil nan imut itu, semuanya berseri, tertawa, tidak ada lagi yang masih mempertanyakan kenapa kita ga menang, kenapa kita ga bawa minimal satu piala.

Satu yang bikin aku ingin menangis KAWAN, kita ikut lomba ini karena ALLAH, bukan karena PIALA.

Blue Kost, 6 Februari 2012 jam 16.06

Selengkapnya...

Sabtu, 21 Januari 2012

Jalan Sehat

Pernahkah Anda sengaja berjalan kaki selama 2 jam lamanya? Mungkin hanya orang-orang kampung atau pedalaman desa sana saja yang masih merasakannya. Apa sebab? Karena memang mereka tidak memiliki kendaraan. Hanya kaki pemberian dari sang Maha Pemberi mereka gunakan untuk menjalankan segala aktivitas rutinitasnya.

Bagaimana dengan orang kota? Masihkah kita temukan orang-orang yang berjalan kaki untuk sekedar pergi ke kampus, kantor, atau ketempat aktivitas rutinitasnya. Jawabnya mungkin saja masih, tapi jumlahnya mungkin sedikit saja, selebihnya berkendara dengan kendaraan.

Sebagai seorang muslim, salah satu muwashoffat (karakter) yang harus dimiliki adalah Qowiyyul Jism (fisik yang kuat). Artinya, seorang muslim haruslah memiliki kondisi tubuh yang selalu prima, tidak mudah sakit, terlebih lagi sebagai aktivis. ANDA AKTIVIS? Selayaknya fisik Anda harus kuat.

Hari ini aku merasakan lelahnya berjalan selama kurang lebih 2 jam. Bukan rutinitas sih, ini karena program dari kantor yang mewajibkan karyawannya untuk berolahraga setiap Sabtu pagi, dan kebetulan pagi ini adalah “jalan sehat”.

Pegal, capek dan lelah yang kurasakan sehabis kegiatan ini, mudah saja menyebutkan penyebabnya, kurangnya rutinitas berolahraga. Tak adanya perbandingan yang proporsionalitas antara rutinitas kegiatan dengan olahraga yang dilakukan. Alhasil, seperti diatas rasanya.

Sedikit flashback ketika aku masih di asrama Jogja, setiap santri semuanya berkewajiban untuk berolahraga selama minimal 20 menit dalam 1 hari. Arinya, setiap hari kami terjaga dari kondisi yang statis, ntah itu dengan berjalan, ngontel sepeda, lari pagi, dll. Namun kebanyakan dari kami waktu itu ngontel sepeda.

Mungkin ini yang harus kembali dilakukan, dimanapun itu tempatnya, tidak mesti ada paksaan karena terikat dengan aturan sebuah instansi. Semoga bias….

Karanganyar, 21-01-2012

Selengkapnya...